Minggu, 21 Maret 2010

Melangkah Diatas Titian Shirath (Kajian Tauhid 17 Maret 2010)



Sambungan Part 2
Sambungan Part 3
Sambungan Part 4
Sambungan Part 5
Sambungan Part 6


Shirath adalah thariq atau jalan. Yang dimaksudkan di sini ialah jambatan yang membentang di atas punggung Neraka Jahannam sebagai satu-satunya jalan menuju syurga Allah. Lewat di atas shirath adalah berlaku umum bagi seluruh manusia, yang tidak mungkin masuk ke surga kecuali setelah berhasil melewati jambatan ini.

Allah berfirman,

“Dan tidak ada seorang pun daripadamu, melainkan mendatangi Neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.” (Maryam 19: 71)

Rasulullah s.a.w. menjelaskan bahwa melewati shirath adalah suatu pemandangan yang menakutkan, membuat orang lupa akan keluarga dan kerabatnya, sampai ia mampu memungkin untuk gagal dan berhasil.

Kemampuan menyeberang adalah terpulang kepada istiqamahnya seseorang dalam meniti agama Islam, atau ash-shirath al-mustaqim, atau jalan orang-orang yang diberi nikmat. Maka barangsiapa beristiqamah di atas agama yang Allah ridhai, iaitu shirath yang bersifat maknawi, maka ia akan mampu menyeberang di atas shirath yang bersifat inderawi sesuai dengan nilai istiqainahnya.

Barangsiapa menyimpang dari shirath mustaqim di dunia di waktu kemakmurannya, maka dia tidak akan tahan di atas shirath yang licin di saat kalut dan ketakutan, dan dia benar-benar kehilangan kenderaannya iaitu amal shaith.

Di antara dalil-dalil shahth yang menunjukkan shirath, sifat-sifat dan penyeberangan di atasnya adalah sebagai berikut:

a) Hadits yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Muslim dengan sanadnya dari Abu Hurairah di dalam hadis yang panjang Rasulullah s.a.w. bersabda,

“Dibentangkan shirath itu di antara dua tepi Jahanam. Aku dan umatku adalah orang yang pertama kali melewatinya. Tidak ada yang berbicara melainkan para rasul, dan doa para rasul pada hari itu adalah, ‘Allahumma sallim, sallim (Ya Allah! Selamatkanlah, selamatkanlah).’ Dan di dalam Jahanam terdapat kait-kait seperti duri pohon sa’dan (Sa’dan adalah sebuah pohon yang dipenuhi oleh duri-duri besar. (pent.)). Apakah kalian pernah melihat pohon sa‘dan? Mereka menjawab, ‘Ya, wahai Rasulullah’. Beliau menjawab, ‘Dia itu seperti duri-duri pohon sa‘dan, hanya saja tidak ada yang mengetahui ukuran besarnya selain Allah. Dia itu merenggut manusia sesuai dengan amal perbuatannya. Maka di antara mereka ada yang tetap (tidak direnggut) karena amalnya, dan di antara mereka ada yang dibalas sampai diselamatkan...” (HR. Muslim 1/163-166, al-Bukhari 8/146-148)

b) Apa yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah dan dari Hudzaifah, Rasulullah s.a.w. bersabda dalam hadis syafaat yang di dalamnya terdapat “Lalu mereka mendatangi Muhammad s.a.w.. Maka beliau berdiri kemudian diizinkan baginya. Kemudian diutuslah amanah dan (silatur) rahim (Diutusnya amanah dan rahim karena begitu besar nilainya dan seringnya terjadi. Maka mereka berdua nampak dalam satu perjalanan sesuai dengan kehendak Allah. (pent.))” Maka keduanya berdiri pada kedua tepi shirath sebelah kanan dan kiri. Kemudian orang pertama dan kalian melewati (shirath) bagaikan kilat. Ia bertanya, saya berkata, Kujadikan bapak dan ibuku sebagai tebusan bagi Anda, apa itu seperti kilat?’ Beliau bersabda,

“Tidakkah kalian melihat kilat, bagaimana ia lewat dan kembali dalam sekejap mata? Kemudian (ada yang) seperti jalannya angin, kemudian seperti terbangnya burung dan seperti larinya orang laki-laki. Dan amal-amal mereka berjalan membawa mereka. Nabi berdiri di atas shirath sambil berdo’a, ‘Rabbi, sallim, sallim (Tuhanku! selamatkan, selamatkan) sampai ada hamba-hamba yang menjadi lemah amalnya (Tidak mampu membawa mereka melintas shirath (pent.)),’ hingga datang seorang laki-laki dan ia tidak dapat berjalan kecuali dengan merangkak. Beliau bersabda, ‘Di antara kedua sisi shirath terdapat kait-kait menggantung yang diperintah untuk mengambil orang-orang yang diperintahkan kepadanya (untuk mengambilnya), maka ada yang terluka kulitnya (tetapi) selamat (dari neraka) dan ada yang didorong ke dalam neraka.” (HR. Muslim 1/186-187)

Dalam hadis-hadis tersebut terdapat dalil adanya shirath, sifatnya, dahsyatnya suasana dan bahwasanya amal-amal itu adalah sarana untuk melintasi shirath dan sebab keselamatan, kerana firman Allah s.w.t.,

“Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bentakwa dan membiarkan orang-orang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.” (Maryam: 72)

Maksudnya Allah menyelamatkan mereka sesudah melintas shirath, dan membiarkan orang-orang zalim tetap berlutut di atas shirath tidak boleh melewatinya.

Apabila kita perhatikan dari keterangan di atas, kenyataan-kenyataan yang ada di Hari Akhir adalah samar, tidak mampu dimengerti dengan akal, kerana memang tidak ada bandingnya dengan kenyataan duniawi. Maka wajib untuk tidak mempersulitkan hakikat perkara-perkara ini, dan menyerahkan ilmunya kepada Allah. Wallahu a’lam!
Sumber : Manhaj

GEMA AL-QUR'AN

Listen to Quran

MASJID AGUNG KARIMUN