Tampilkan postingan dengan label BULETIN AL QALAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BULETIN AL QALAM. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Desember 2010

BULETIN JUM'AT - AL QALAM EDISI 35 - MASJID AGUNG KARIMUN



Ketika Ustadzah Meberikan Hukuman

Bocah laki-laki itu tertunduk lesu. Wajahnya muram, menahan sedih. Murid kelas 2 tersebut tak bisa menahan kekesalannya. Sesekali dia bergumam sendiri, menampakkan penyesalannya. Dia lantas berdiri, kemudian menuju ke ustazah (sebutan ibu guru di SD Islam Terpadu). Keringat dingin berpadu dengan keberanian. Ya, bocah delapan tahun itu berusaha memberanikan diri untuk bertanya. ”Kenapa saya dihukum, Ustazah?” Pertanyaan tersebut meluncur dari bibir bocah bertubuh gemuk itu. Ia memang sedang menjalani hukuman dari sang ustazah. Murid tersebut tidak diperbolehkan istirahat di luar kelas, seperti teman-temannya yang lain. Alhasil, dia hanya manyun di dalam kelas dan makan perbekalan yang dibawa dari rumah.
Sang ustazah tersenyum kecil. Tak tampak kegarangan seorang guru yang tengah menghukum siswanya. Diusapnya kepala sang siswa. Berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan makna di balik hukuman itu. Mereka terlibat perbincangan yang agak serius. Mata si murid sedikit berkaca-kaca. Sedih sekali. Pasalnya, dia begitu kepengin bermain sepak bola bersama teman-temannya di luar sana. Apalagi, jam istirahat masih cukup lama, sekitar 15 menit lagi baru masuk kelas. Sebuah buku kecil tergenggam erat di tangan sang ustazah. Di situ terdapat catatan mengenai kegiatan salat wajib lima waktu, mulai salat Subuh hingga salat Isya.
Ada kolom yang kosong di salah satu isian salat wajib tersebut. Sang ustazah menunjukkannya kepada muridnya. Ia kembali tertunduk lesu. ”Mengapa nggak salat, Nak?” tanya ustazah, masih dengan senyumnya yang menjuntai. Tak pernah lepas dari bibirnya. ”Ngantuk, Ust. Ketiduran,” jawab si murid polos.Ustazah lantas mengingatkan pentingnya menjaga salat fardu (wajib). Ia juga menawarkan solusi kepada siswanya tersebut untuk saling mengingatkan dengan teman-temannya soal salat. Misalnya, itu dilakukan lewat percakapan via telepon.
Maka, jamak terjadi di lingkungan sekolah tersebut, terutama di kalangan para siswa, kegiatan mengingatkan salat wajib. Biasanya, sang murid menelepon temannya ketika memasuki waktu salat Isya. Menanyakan sudah salat atau belum.

***
Kendati kasihan kepada siswanya, ustazah tetap menjatuhkan hukuman. Yakni, tidak membolehkan si murid untuk beristirahat di luar kelas sebagaimana dilakukan teman-temannya yang lain. Bisa saja kolom salat wajib itu diisi meski sebenarnya tidak salat alias memanipulasi. Namun, hal tersebut justru tak terjadi di kelas itu. Sang ustazah selalu mengingatkan bahwa kejujuran harus dijunjung tinggi dan ini sudah ditanamkan sejak dini, mulai murid kelas 1 di SD Islam Terpadu (SD IT) tersebut. Selain itu, ada kegiatan lain untuk menanamkan kekompakan. Salah satunya, siswa menjalankan salat Duha setiap pagi di masjid sekolah. Setiap duhur dan asar, mereka juga salat berjamaah dengan diimami oleh salah seorang siswa. Tak jarang, ada siswa yang tertidur ketika melakukan sujud atau duduk tahiyatul akhir ketika salat berjamaah di sekolah. Biasanya, sang ustazah langsung membenahi dan mengingatkannya.
***
Hhm...saat ini apa saja bisa dimanipulasi dan siapa saja bisa menjadi manipulator. Urusan tipu-menipu demi kepentingan pribadi atau golongan jamak terjadi. Mafia di mana-mana. Tak terkecuali di dunia pendidikan. Saya sadar dan yakin, tidak ada orang yang dididik untuk menjadi seorang ”Gayus.” Tak ada guru yang menanamkan sifat manipulatif. Namun, tentu saja hal seperti itu mungkin tak terelakkan. Kendati demikian, bukan berarti masalah tersebut tidak bisa dicegah.
Nah, inilah yang ditanamkan oleh sang ustazah kepada muridnya tersebut. Hukuman yang diberikan bukan bermaksud untuk mengeliminasi kebebasan. Justru di situ ditanamkan nilai sosial, kultur silaturahmi yang kini mulai luntur. Diharapkan, timbul kesadaran bahwa salat itu merupakan kebutuhan rohani yang juga penting. Dengan demikian, hal tersebut terus dijaga sampai si murid dewasa kelak. Sehingga sifat menghamba duniawi dengan menghalalkan segala cara dapat tercegah dan tergerus. Caranya melalui penanaman kejujuran. Sederhana, tapi tidak mudah. (Eko Prasetyo, ERA MUSLIM)

BULETIN JUM'AT - AL QALAM EDISI 34 - MASJID AGUNG KARIMUN




Membentuk Generasi yang Mencintai Alquran

Alquran Al Karim adalah firman Allah SWT seru sekalian alam yang diturunkan dalam bahasa Arab. Darinya, terpancar cahaya petunjuk dan hidayah. Allah SWT telah berjanji akan selalu menjamin keautentikan dan keorisinilan Alquran dan menjaganya dari segala upaya distorsi dan penyelewengan terhadap isinya sampai hari kiamat. Alquran juga merupakan pedoman hidup sekaligus sebagai pelita hati dan pelipur lara bagi kaum Muslimin.
Oleh karena itu, Kerajaan Arab Saudi sejak didirikan oleh Yang Mulia Raja Abdul Aziz Abdurrahman Al Su’ud, selalu berjalan menurut koridor-koridor. Di kerajaan ini, Alquran dijadikan sebagai sumber dari segala sumber hukum. Semua tatanan, struktur, dan perundang-undangan yang ber laku diatur berdasarkan ketentuan dan petunjuk Alquran. Baik dalam tatanan teoritis maupun praktis. Karena itulah, negeri ini memberi perhatian yang amat serius kepada Alquran dengan mencetaknya dalam jumlah yang tidak terbilang, untuk disebarluaskan dan dibagibagikan secara cuma-cuma ke seluruh penjuru dunia.
Bahkan, di Kota Madinah Al-Munawwarah, dibangun kompleks terbesar untuk untuk percetakan dan penerbitan mushaf Alquran beserta terjemahan maknanya, dengan nama Kompleks Raja Fahd untuk Percetakan Al-Mushaf Al- Syarif. Bahkan, kompleks ini boleh dikatakan sebagai pencapaian yang paling spektakuler yang telah diwujudkan oleh pemerintahan Sang Pelayan Dua Kota Suci, Yang Mulia Raja Fahd bin Abdul Aziz. Selain itu, Kerajaan Arab Saudi juga sangat konsen terhadap pengajaran Alquran bagi anak-anak negeri di semua jenjang pendidikan. Hal itu mereka realisasikan dengan mendirikan sekolah-sekolah khusus di bidang tahfiz atau hafalan Al-qur an, dan lembaga-lembaga yang bertugas mengawasi segenap aktivitas halaqah tahfiz Alquran di masjid-masjid. Juga, dengan cara mem beri bantuan materiil dan moril dan memuluskan segala cara, yang ditempuh demi terlaksananya misi yang luhur ini.
Sebagai salah satu bukti dari perhatian Kerajaan Arab Saudi terhadap Alquran ini, Pemerintah Kera jaan Arab Saudi menye lenggarakan kegiatan Musabaqah Tahunan Hafalan Alquran dalam skala nasional dan internasional. Di antaranya, Musabaqah Tahunan Hafalan Alquran dan Hadis yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Arab Saudi di Indonesia ini. Yang dari tahun ke tahun, pelaksanaannya diserahkan sepenuhnya kepada Kantor Atase Agama Kedubes Arab Saudi di Jakarta, bekerja sama dengan pihak-pihak yang ada di Indonesia.
Tujuan musabaqah Setidaknya ada empat tujuan umum diselenggarakannya musabaqah ini. Pertama, membentuk generasi-generasi yang mencintai dan mengaplikasikan ajaran-ajaran Alquran dan Alhadis dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, menjalin kerja sama dan mempererat tali ukhuwah antara pihak Kerajaan Arab Saudi dalam hal ini diwakili Kantor Atase Agama Ke dutaan Besar Arab Saudi dan berbagai pihak di seluruh Indonesia. Ketiga, menyebarluaskan syiar Islam dengan menggalakkan hafalan ayat-ayat Alquran dan matanmatan Alhadis. Keempat, mem bu mikan ajaran-ajaran Al-quran dan Alhadis dalam kehidupan sehari-hari. Sementara tujuan khususnya, untuk hafalan Alquran, pertama, mencari kader-kader yang berkualitas dalam menghafal Alquran. Kedua, mendukung pondok-pondok pesantren Islam yang konsen dalam bidang tahfiz Alquran. Ke-tiga, menjalin hubungan dengan para penghafal Alquran di seluruh Indonesia. Tujuan khusus hafalan hadis. Pertama, mencari kader-kader peng hafal hadis yang unggul. Kedua, menghidupkan kembali kajian dan hafalan Alhadis, mengingat sedikitnya orang pada saat ini yang menekuni bidang tersebut. Ketiga, menjalin hubungan dengan para penghafal hadis. (Republika)

Jumat, 19 November 2010

BULETIN JUM'AT - AL QALAM EDISI 33 - MASJID AGUNG KARIMUN

BULETIN AL QALAM EDISI 33 Dapat di Download di sini



HAJI MABRUR
Oleh: A. Mustofa Bisri

Segala kesibukan itu -dari menghitung tabungan, urusan ke Depag, antre di bank, periksa kesehatan, kursus manasik haji, pamit-pamit, tasyakuran, menerima tamu-tamu yang titip doa, sampai upacara pelepasan di rumah, di kabupaten, hingga di embarkasi- sungguh melelahkan para calon jamaah haji. Belum lagi urusan di bandara-bandara. Segala kesibukan itu tentunya pertama-tama karena didorong oleh keinginan hidup bahagia di akhirat.
Di surga Allah. Bukankah para penatar manasik selalu menyitir sabda Nabi Muhammad SAW, "Wal hajjul mabruur laisa lahu jazaa-un illal jannah" ? Haji mabrur tak ada balasannya kecuali surga.
Maka, bukan saja kerelaan menanggung segala -biaya (termasuk biaya yang tidak seharusnya), tenaga, dan pikiran- yang dapat kita lihat dari kesibukan para calhaj (calon haji) itu, tapi juga dari semangat dan keseriusan mereka saat beribadah di tanah suci. Siapa yang mau bersusah-payah sedemikian tanpa hasil, sia-sia, gara-gara haji tidak mabrur.
Semuanya ingin haji mabrur. Para petugas dari Depag, perkumpulan-perkumpulan haji, dan KBIH-KBIH pun senantiasa memujikan hal itu. Namun sayang, pengertian tentang ’mabrur’ itu sendiri jarang atau bahkan tidak pernah diterangkan. Hal ini mungkin karena mereka sudah mempunyai husnuzhzhan bahwa para jamaah sudah paham, atau boleh jadi, mereka sendiri pun kurang paham. Yang selalu dijelas-jelaskan justru bagaimana cara thawaf, sa’i, wuquf, melempar jumrah, serta amalan ibadah haji dan doa-doanya. Di beberapa daerah, bahkan, didirikan ka’bah-ka’bahan permanen atau semipermanen untuk keperluan ’latihan’ thawaf. Ini sebenarnya lucu.
Mengapa harus kursus dan latihan? Haji adalah ibadah amaliyah. Ibadah laku. Tidak seperti salat yang di samping laku, ada bacaan-bacaannya yang wajib juga. Sedangkan amalan atau laku ibadah haji, tidak ada yang sulit. Ihram hanya memakai pakaian, salat sunnah, dan niat. Thawaf hanya berputar-putar mengelilingi Ka’bah 7 kali. Anda tidak bisa membayangkan orang -sebodoh apa pun tanpa dilatih sekalipun-keliru thawaf, misalnya keliru berputarnya. Sebab, jika keliru berputar, orang itu akan tertabrak orang-orang yang lain. Sa’i hanyalah mondar mandir dari Shofa ke Marwah. Jalur jalannya sudah diatur dua jalur: yang menuju ke Marwah dan yang kembali ke Shofa. Tak mungkin orang keliru, kecuali -paling-paling- lupa hitungannya.
Wuquf yang merupakan inti ibadah haji justru hanyalah berdiam diri. Thenguk-thenguk, bahasa Jawanya. Masak berdiam diri saja mesti dilatih? Hanya beberapa anak kecil yang biasanya sulit thenguk-thenguk. Melempar jumrah pun ya hanya melempar. Bagi mereka yang di waktu kecil nakal dan suka melempar jambu tetangga, melempar jumrah tentu perkara kecil. Sedangkan yang namanya tahallul, tidak lain hanya mencukur atau memotong rambut.
Jadi, menurut saya, hal-hal seperti itu perlu dikurangi -jika berat menghapusnya- dari kurikulum penataran manasik haji. Yang justru perlu adalah memberikan penerangan kepada jamaah calhaj -yang umumnya orang-orang awam- tentang hal-hal teknis lainnya. Misalnya, apa yang sebaiknya dibawa dan apa yang tidak perlu dibawa, bagaimana menjaga kesehatan, bagaimana menghadapi ’kehidupan luar negeri’ dan tetek-bengeknya, bagaimana menghadapi berbagai macam jenis manusia yang berbeda adat-istiadatnya, dsb, dst.
Berkenaan dengan hadis tentang kemabruran haji itu, ada riwayat yang menyebutkan adanya pertanyaan para sahabat saat Nabi Muhammad SAW menyebut-nyebut tentang haji mabrur itu: "Wamaa birrul hajji ya Rasulallah?" Apa kemabruran haji itu ya Rasulallah? Dan ternyata jawaban Rasulallah SAW tidak berhubungan dengan thawaf, sa’i, dan sebagainya itu. Tapi, justru yang ada hubungannya dengan pergaulan dengan sesama jamaah yang sama-sama beribadah, seperti menebarkan salam dan memberikan pertolongan. Bila riwayat ini dianggap dhaif, kita masih bisa menyimak sunnah Rasul saat melakukan ibadah haji. Bagaimana sikap tawadhu’, kemurahan, kelembutan, dan hal-hal lain yang menunjukkan penyerahan diri beliau sebagai hamba kepada Tuhan dan tepo sliro beliau kepada sesama hamba-Nya.
Boleh jadi, semangat yang menggebu-gebu untuk mendapatkan kemabruran tanpa memahami makna kemabruran itu sendiri dapat menyeret jamaah haji kepada sikap egois dan mau ’menang sendiri’. Lihatlah mereka yang berusaha mencium Hajar Aswad itu,misalnya. Alangkah ironis. Mencium Hajar Aswad paling tinggi hukumnya adalah sunnah, tapi mereka sampai tega menyikut saudara-saudara mereka sendiri kanan kiri. Bagaimana berusaha melakukan sunnah dengan berbuat yang haram? Jangan-jangan, dalam banyak hal lain, kita juga hanya mengandalkan semangat yang menggebu dan mengabaikan pemahaman. Masya Allah.
Nah, jika ingin haji mabrur, jagalah hubungan baik dengan Allah dan dengan sesama hamba Allah. Selamat beribadah! Semoga benar-benar mabrur!

Kamis, 11 November 2010

BULETIN JUM'AT - AL QALAM EDISI 32 - MASJID AGUNG KARIMUN

Buletin Al Qalam Edisi 32 dapat di download disini

Menyingkap Rahasia Qurban
Oleh : KHA. Masduqi Machfudz 
(Pengasuh PP. Salafiyah Syafi’iyah)




Peristiwa sejarah yang menandai hari raya 'Iedul Adl-ha adalah tugas berat yang dibebankan Allah swt. kepada Nabi Ibrahim as. agar beliau menyembelih puteranya, Nabi Isma'il as.
Dalam surat Ash-Shafaat ayat 100 - 106, Allah swt. berfirman:
"Ya Tuhanku, anugerahilah aku anak yang saleh. Kemudian Kami berikan kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang penyantun. Setelah anak itu dapat melakukan usaha bersamanya, Ibrahim berkata kepadanya, "Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi dalam tidurku bahwa aku menyembelih engkau. Maka pertimbangkanlah bagaimana pendapatmu?" Sang anak menjawab, "Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan itu. Niscaya ayah akan mengetahui bahwa diriku termasuk orang-orang yang sabar, insya Allah". Maka ketika keduanya telah mematuhi perintah Allah dan pipi sang anak sudah ditempelkan di atas tanah, maka Kami berseru kepadanya: "Wahai Ibrahim, sesungguhnya engkau telah mematuhi perintah berdasarkan mimpi itu!" Dan sesungguhnya dengan cara seperti itulah Kami membalas orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya peristiwa ini adalah suatu ujian yang nyata!"
Untuk menangkap hikmah-hikmah dari peristiwa Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il as. tersebut, kita dapat menelusurinya dari beberapa segi, yaitu:
Pertama: Dari segi jenis perintah
Kedua: Dari segi yang diperintah
Ketiga: Dari segi materi perintah
Mengenai jenis perintah
Dapat kita ketahui bahwa perintah yang dibebankan oleh Allah swt. kepada Nabi Ibrahim as. sangat irasional atau sangat tidak masuk akal. Betapa tidak, orang disuruh menyembelih puteranya sendiri. Kalau kita mencoba menganalisanya secara rasional atau secara akal pikiran, kemungkinan kesimpulan kita akan meleset dari kebenaran. Bahkan kita akan menuduh bahwa ayat tersebut tidak masuk akal, sehingga kebenarannya perlu dipertimbang kan dan ditinjau kembali.
Kesimpulan dari analisa kita tidak akan meleset, jika sebelumnya kita sudah menyetujui dan meyakini bahwa tidak selamanya perintah-perintah Allah itu harus rasional atau dapat masuk akal. Atau dengan lingkup pembahasan yang lebih luas, tidak selamanya aturan-aturan yang terdapat dalam agama Islam itu sesuai dengan akal fikiran. Banyak aturan-aturan ritual atau peribadatan dalam agama Islam yang tidak masuk akal, yang oleh para ulama disebut ta'abbudiy, atau ibadah mahdlah atau ibadah murni, yaitu hal-hal yang mengatur hubungan antara manusia dengan Penciptanya (Khaliqnya).
Sedang peraturan-peraturan yang bertalian dengan masalah sosial yang disebut dengan "ibadah ghairu mahdlah" atau ibadah yang tidak murni atau ibadah sosial adalah bersifat rasional atau sesuai dengan akal fikiran. Oleh karena itu akan meleset hasilnya, jika ibadah mahdlah seperti perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih puteranya, Nabi Isma'il di atas dianalisa dengan pendekatan rasional.
Kini timbul pertanyaan, yaitu:
Kalau seluruh firman Allah itu tidak ada yang sunyi dan sepi dari faedah, maka apakah faedahnya Allah memerintahkan makhluk-Nya dengan perintah yang tidak masuk akal dan tidak dapat difahami oleh makhluk itu sendiri?
Di sinilah Allah mengakhiri kisah tersebut dengan berfirman:
“Sesungguhnya hal ini adalah merupakan ujian yang nyata.” (Ash-Shafaat:106)
Yaitu ujian kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il as., sampai di mana keduanya mau melaksanakan perintah Allah, meskipun perintah tersebut tidak dapat dipahami maksudnya.
Mengenai segi yang diperintah:
Apabila perintah Allah tersebut adalah merupakan batu ujian terhadap Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il as., maka pertanyaan yang mungkin timbul adalah:
Untuk apa Allah masih juga menguji Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il as.?
Bukankah kedua Nabi tersebut orang-orang yang telah dipilih oleh Allah sendiri?
Apakah keduanya mungkin lulus atau gagal dalam menghadapi ujian tersebut?
Jawabnya ialah bahwa tentu kedua Nabi tersebut pasti lulus dalam menghadapi ujian, karena keduanya adalah orang-orang yang sudah dipilih oleh Allah!
Akan tetapi untuk apa kedua Nabi tersebut masih diuji?
Di sinilah kita dapat menangkap hikmah yang agung dalam peristiwa tersebut. Kalau nabi pilihan Allah itu masih juga mendapat ujian hidup, maka kita sebagai makhluk biasa yang bukan pilihan ini, tentu lebih layak untuk mendapatkan ujian-ujian dari Allah. Allah swt mungkin menguji makhluk-Nya dengan ujian yang pahit atau ujian yang manis, sebagaimana firman Allah swt. dalam surat Al Mulk ayat 2 yang berbunyi:
“Allah yang menjadikan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya...”
Dalam menghadapi ujian-ujian ini, kita sendirilah yang akan menjawabnya, apakah akan lulus atau gagal dalam menghadapi ujian-ujian dari Allah swt. Yang jelas, semakin teguh seseorang mengikuti ajaran-ajaran Allah dan Rasul-Nya, semakin banyak kemungkinan ia sukses dalam menghadapi ujian. Dan semakin jauh seseorang dari ajaran-ajaran agama, semakin tipis pula kemungkina untuk dapat sukses dalam menghadapi ujian dari Allah swt.
Perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh, bahwa manusia itu semakin ta'at kepada perintah Allah swt., akan semakin pedih dan berat ujiannya; dan semakin dekat seseorang kepada Allah swt., akan semakin besar pula ujian yang ditimpakan Allah kepadanya. Pernah Nabi Besar Muhammad saw. ditanya oleh sahabat Sa'ad bin Abi Waqqash tentang orang yang paling pedih dan berat ujiannya di dunia ini, beliau menjawab: “Para nabi, kemudian orang-orang yang seperti nabi, lalu orang-orang yang seperti mereka..” Oleh karena itu, tidaklah layak bagi seseorang untuk mengharapkan karunia dari Allah swt., sebelum dia tahan dan lulus dari ujian-ujian hidup yang ditimpakan kepadanya.
Ketika ada sekelompok orang yang datang kepada Nabi dan menyatakan sebagai orang-orang mukmin, kemudian datang menimpa mereka ujian dari Allah swt., yaitu mereka dihadang oleh orang-orang kafir yang ingin membunuh mereka, sehingga mereka merasa kesal, sebab mereka sudah merasa sebagai orang-orang yang beriman, mengapa pula masih mendapat ujian hidup. Maka turunlah firman Allah:
Alif, Laam, Miim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja mengatakan: "Kami sudah beriman" tanpa mendapat cobaan? Sesungguhnya Kami telah mencoba (menguji) orang-orang sebelum mereka, agar Allah mengetahui, mana orang-orang yang benar-benar beriman dan mana orang-orang yang dusta. (Q.S.al Ankabut: 1)

Tulisan Lengkap, Baca di Buletin Edisi 32

Rabu, 03 November 2010

BULETIN JUM'AT - AL QALAM EDISI 31 - MASJID AGUNG KARIMUN

BULETIN AL QALAM EDISI 31 dapat di download di sini

Alhamdulillah, kite semue masih dalam keadaan sehat, dapat menjalankan ibadah tanpe resah gelisah, dapat makan minom dengan tenang, dapat bekerje, dan tiade hal yang yang tak pantas untok tidak kite syukuri. Cobe kite tengok saudare-saudare kite yang di Wasior, Mentawai, Jogja, dan bahkan Jakarta yang kite tengok gemerlap tu pon sekarang lagi ditimpe bencane. Tapi kite mesti ingat ape yang disampaikan Allah SWT,bahwe apebile kite diberi nikmat make kite mesti bersyukur dan apebile kite ditimpekan musibah make kite senantiase mengucapkan Innalillahi wainnailaihiroji’un, berserah kepade Allah sebab kalau tidak make azab Allah tu amatlah pedih.

tekadang kite ni selalu salah menilai ape yang disampaikan Allah SWT, bukan berarti dalam bencane yg menimpe kite tak bersyukur, sebab itu merupekan care Allah untuk menaikkan derajat kite dengan menguji kite, menguji kesabaran dan keimanan kite. Apekah harte dan tahte tu bukan ujian? itu juge ujian! Karene Allah ndak nengok seberape besa rase syukur kite, atau jangan-jangan kite menjadi lupe dengan ape yang diberikan Allah tu. 

Salah satu tande kite bersyukur dengan harte yang dimudahkan Allah kepade kite adelah dengan menyadari bahwe ape yang diberikan Allah itu adelah titipan dan di dalamnye ade amanah untuk mereke yang tak mampu yang dipercayekan Allah kepade kite untuk kite sampaikan. Apebile kite mudah membagikan rezeki kite tu kepade orang lain (membelanjekannye di jalan yang diridhoi Allah) make Allah akan dengan senang untuk terus melimpahkan rezeki bagi kite. Semakin banyak kite memberi make akan semakin banyak yang kite terime, dan ini hanye ade di hati orang-orang yang mempercayai bahwe Allah itu Maha Kaye dan Maha Pemurah dengan segale kasih sayangNye. 

Kite semue ingin menjadi orang yang kaye rezeki secare lahiriah dan kaye rezeki batiniah, dunie dan akherat. kalau pun tidak kaye, bercukupan pun sudah luar biase. Kite tengok pade firman Allah SWT dan Hadits Rasulullah SAW yang artinye:
"..Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Ia akan mengadakan baginya jalan keluar (dari kesulitan)”(2) “Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (QS.(At-thalaaq)65: 2-3)
Abu Hurairah ra meriwayatkan: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, "Barang siapa suka rezekinya diluaskan dan umurnya dipanjangkan hendaklah ia menyambung silaturahim." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Sekarang merupekan saat yang tepat bagi kite untuk membagikan rezeki kite kepade saudare kite yang lagi tertimpe musibah dan juge dengan ini juge kite dapat menjalin silaturahim. Hulurkan semampu kite ape yang patut kite berikan. Sebab, kebahagiaan yang sebenarnye sebagai manusie adelah disaat kite istiqamah dalam habluminallah dan dengan tidak lalai dalam membahagiekan dan bermanfaat orang lain (habluminannas).

Dan betape Allah pun sudah menyiapkan suatu amalan besar bagi kite untuk menjadi hambeNye yg bertaqwa dengan berqurban pade hari Idul Adha kelak, sebagai tande syukur serte keta’atan kite kepade Allah dengan penuh keikhlasan seperti yang ditauladankan oleh Nabi Ibrahim AS dan puteranye Nabi Isma’il AS, serte ape yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW. Habluminallah wa habluminnas, keshalihan pribadi ditingkatkan, keshalihan sosial tak lupe kite tinggalkan. Kite tak kan bise hidop sendiri, walau hebat macam mane pon kite, make maut akan menjemput kite dan di saat maut menjemput, make tiade bise diri kite menguburkan diri kite sendiri. Wallahu’alam (Ardi, MAK)

GEMA AL-QUR'AN

Listen to Quran

MASJID AGUNG KARIMUN